Pages

di bawah kembang api yang meloncat-loncat monolog saya menari-nari.
berdansa denganmu di kepala lewat suara.

yang ditanya-tanya cuma dua kata.

apa-iya,
lalu tanda tanya.
tanda tanya raksasa.
yah, raksasa.
seraksasa tiranosaurus yang kita ajak foto bersama.

lalu saya cuma tertawa-tawa.
entah di mana saya taruh kotak harapan saya.
penasaran setengah mati saya bertanya,
apa kemarin kamu saya simpan di sana?
atau saya tinggalkan di bawah pohon natal sebelah santa boneka?
di lubang meja sodok dekat bianglala?
kursi bioskop layar pemburu jenaka?

atau jangan-jangan,
kamu masih saya bawa-bawa?
sampai kotak pesan saya penuh,
isinya lebih tujuh puluh.

loh, memangnya siapa yang sebenarnya bercanda?
kamu, atau justru saya?
tapi apa-iya?
ini kita,atau komedi saja?

{yah, komedi putar tidak apa-apalah, jawabmu. asal bukan bianglala. ketinggian memancing phobia.}
ah, saya cuma siap-siap tertawa.toh saya sudah biasa memerankan tokoh pecundangnya.

1 comments:

windy maulidya nazla said...

kita akan selalu menjadi pecundang yang hanya dapat menerima nasib seorang pecundang

--something happened